Tampilkan postingan dengan label dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dewasa. Tampilkan semua postingan
Remaja yang menyalurkan dorongan seksual dengan PSK berisiko tinggi tertular
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
Menakut-nakuti remaja putra terkait dengan kehamilan pada pacarnya ternyata berujung ’buruk’. Pada masa dorongan hasrat seksual sedang menggebu-gebu mereka terperangkap dalam ketakutan.
Remaja putra takut menyalurkan dorongan seksual dengan pasangannya kerena takut pasangannya hamil. Ini terjadi karena pemahaman terhadap kesehatan reproduksi yang sangat rendah di kalangan remaja.
Akibatnya, mereka mencari cara penyaluran dorongan seksual yang terhindar dari kemungkinan kehamilan pada pasangannya, yaitu: dilakukan dengan pekerja seks komersial (PSK) atau melampiaskannya dengan sesama (homoseksual).
’Remaja gay’ dan ’waria muda’ sudah aktif secara seksual sejak berusia antara 18 dan 20 tahun. Bahkan, kebanyakan justru sudah mulai berhubungan seksual pada usia antara 15 dan 16 tahun.
Remaja yang menyalurkan dorongan seksual dengan PSK berisiko tinggi tertular HIV. Sudah banyak kasus HIV/AIDS faktor risiko (cara penularan) hubungan seksual yang terdeteksi pada remaja. Memang, persentase kasus HIV/AIDS pada remaja didominasi faktor risiko jarum suntik pada penyalahguna narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya).
Pada konferensi pers di Pertemuan Nasional (Pernas) AIDS IV 2011 di Jogja (4/10-2011) pengurus GWL-INA (Jaringan Gay, Waria dan Lelaki yang berhubungan Seks dengan Lelaki lain) yaitu organisasi yang melakukan advokasi terhadap permasalahan gay, waria, dan biseksual di Indonesia terungkap bahwa ada kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ’remaja gay’ dan ’waria muda’.
’Remaja gay’ dan ’waria muda’ rentan tertular HIV karena mereka tidak memakai kondom saat melakukan seks anal atau seks oral. Ini terjadi karena hubungan seksual yang mereka lakukan tidak mungkin menimbulkan kehamilan seperti yang selalu disampaikan orang tua, guru dan pihak-pihak lain dalam berbagai kegiatan jika mereka melakukannya dengan pasangan atau pacarnya.
Risiko kehamilan pada pasangan atau pacar seperti yang dijejali melalui ceramah pada berbagai kesempatan kepada remaja mendorong mereka mencari penyaluran hasrat seksual yang terhindar dari kehamilan. Maka, mereka pun tidak memakai kondom pada saat melakukan seks anal atau seks oral. Padahal, ada risiko lain yang mengintip pada seks anal dan seks oral yaitu tertular IMS (infeksi menular seksual, seperti GO, sifilis, klamidia, virus hepatitis B, dll.) serta HIV.
Fakta di atas menunjukkan kesadaran ’remaja gay’ dan ’waria muda’ untuk mencegah penularan HIV sangat rendah. Kondisinya kian runyam karena pemakai jasa waria yaitu laki-laki heteroseksual, dalam kehidupan sehari-hari mereka ini bisa sebagai seorang suami, pacar, selingkuhan, lajang atau duda, juga tidak mau memakai kondom jika kencan dengan waria.
Maka, tidak mengherankan kalau kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi pada waria. Lihat saja kasus HIV/AIDS pada waria di Jakarta ini. Tahun 2007 kasus HIV/AIDS terdeteksi pada 34 persen waria. Ini artinya satu dari tiga waria terinfeksi HIV. Kasus HIV/AIDS kebanyakan terdeteksi pada waria muda.
Di sisi lain laki-laki heteroseksual itu menjadi jembatan penyebaran HIV dari waria ke istri mereka. Itulah sebabnya kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga. Laporan terakhir menunjukkan 1.970 ibu rumah tangga di Indonesia terdeteksi mengidap HIV.
’Remaja gay’ dan ’waria muda’ itu biasanya melakukan hubungan seksual pertama dengan gay dan waria yang lebih tua (gay dan waria dewasa) dari mereka. Inilah salah satu faktor yang mendorong penularan HIV karena gay dan waria yang lebih tua dari mereka sudah lebih dahulu melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti.
GWL-INA memperkirakan gay dan waria di Indonesia sekitar 700.000-an. Sedangkan gay dan waria yang bisa dijangkau baru sepuluh persen dari jumlah itu melalui jaringan GWL-INA di 24 provinsi. Di provinsi yang belum ada jaringan GWL-INA tidak ada penjangkauan sehingga tidak ada upaya untuk memberikan informasi terkait dengan upaya mereduksi risiko tertular IMS dan HIV atau dua-duanya sekaligus.
Terkait dengan epidemi HIV yang kian menyebar program penanggulangan yang dijalankan pemerintah bersifat parsial dan sporadis. Celakanya, pelayanan IMS dan HIV/AIDS di puskesmas dan rumah sakit sering tidak bersahabat terhadap gay dan waria. Ini mendorong stigmatisasi (pemberian cap buruk) dan diskriminasi (membedakan perlakuan) terhadap gay dan waria.
Mengabaikan risiko penularan HIV pada ’remaja gay’ dan ’waria muda’ melalui pelayanan yang bias gender serta diskriminasi kian memperparah penyebaran HIV di Indonesia. Soalnya, pelanggan ’remaja gay’ dan ’waria muda’ adalah laki-laki heteroseksual yang akan menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat melalui hubungan seksual tanpa kondom, terutama di dalam nikah dengan istri. ***[Syaiful W. Harahap]***
3 Juta Pria Indonesia Pernah Berhubungan Seks Sesama Jenis
Hubungan seks sesama pria tidak hanya dilakukan oleh kaum gay atau homoseks, melainkan juga oleh waria, biseks dan bahkan heteroseks. Diperkirakan, lebih dari 3 juta pria di Indonesia pernah melakukan hubungan seks dengan sesama jenis.
Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gay, Waria dan Lelaki yang Berhubungan Seks dengan Lelaki (GWL) INA, Tono Permana Muhamad mengatakan tidak ada angka pasti tentang perilaku lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki atau sering disingkat LSL.
Perilaku LSL yang paling banyak terdata hanya berasal dari kalangan waria karena lebih ekspresif dan mudah dikenali dari penampilan luarnya. Berbeda dengan gay yang umumnya berpenampilan sebagaimana layaknya pria dan cenderung tertutup soal identitas dan orientasi seksualnya.
Selain kedua kelompok tersebut, masih ada lagi kelompok berperilaku LSL yang sering terlupakan yakni heteroseks. LSL di kalangan heteroseks menurut Tono dilakukan sesekali saja, biasanya karena terpaksa misalnya di lingkungan yang ada pemisahan antara pria dan wanita.
“LSL terjadi juga di kalangan heteroseks misalnya di antara siswa yang tinggal di asrama, penghuni tahanan pria dan para pekerja offshore (lepas pantai),” ungkap Tono dalam diskusi temu media bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DKI Jakarta di Kafe Oranye, Citiwalk, Jakarta, Kamis (17/3/2011).
Berbeda dengan biseks yang memang menyukai pria maupun wanita sekaligus, LSL di kalangan heteroseks mungkin hanya dilakukan sekali seumur hidup. Selanjutnya, pria itu akan kembali ke orientasi seksualnya yang asli ketika berbaur di lingkungan yang ada wanitanya.
Tono menambahkan, secara teoretis 3 persen pria di seluruh dunia pernah berhubungan seks dengan sesama jenis. Di Indonesia sendiri ia memperkirakan lebih dari 3 juta pria yang berperilaku LSL, 800 ribu di antaranya berasal dari kalangan waria, gay dan biseks.
“Distribusinya paling banyak di Jakarta, yakni sekitar 60 ribu hingga 80 ribu orang. Kota besar memang sering jadi pelarian karena di daerahnya sendiri mereka terpinggirkan oleh lingkungan dan bahkan keluarganya,” tambah Tono.
Sementara itu untuk melindungi kaum LSL baik waria, gay maupun yang lain dari risiko penularanHuman Immunodeficiency Virus (HIV), KPA DKI bertekad untuk menghapus stigma dan diskriminasi, mulai dari lingkungan pusat-pusat layanan kesehatan.
“Pertengahan tahun 2011, kami akan mengadakan pelatihan tentang pendekatan khusus terhadap kaum LSL bagi tenaga kesehatan di 5 Puskesmas di Jakarta, yakni di Pejaten, Bendungan Hilir, Ciracas, Cengkareng, dan Koja,” ungkap sekretaris KPA DKI, Dra Hj Rohana Manggala M,Si.
Langganan:
Postingan (Atom)






